KKN Mode On : BBBBB (Bocah-Bocah Balangan yang Bandel-Bandel)

bismillaahirrahmaanirrahiim

Tenang, Sodara-sodaraku Balangan… Jangan emosi setelah baca judul artikel ini. Aku gak bermaksud untuk menjelek-jelekkan kalian, sumpah enggak! Bandel itu bisa bermakna positif loh. Kayak iklan-iklan di tivi itu, ada kan yang pakai kata bandel untuk men-show off-kan kehebatan produk mereka. Misalnya: motor ini, mesinnya bandel! hohohohoh ;P

Nah, aku udah pernah cerita pengalaman KKN-ku dengan anak-anak manis di daerah Nyangkringan. Kini, giliran anak-anak Balangan yang spesiyal ini yang akan kuceritakan. Lebih tepatnya adalah tentang anak-anak laki-lakinya, karena memang mereka lah yang sangat mewarnai hari-hari KKN kami di sana… (ceilaaaahh)

Hmmm, tapi kalau kuceritain dari awal sampai akhir, kayaknya kalian gak bakal pada baca artikel ini semuanya karena ceritanya bakal puanjuang buanguet. Akan membosankan karena sebagian besar dari kalian gak kenal sama anak-anak spesiyal ini. Tur aku juga rada bingung. Maka, mending aku ulas aja beberapa sifat mereka yang saaangatt menonjol. Sebenernya sifat-sifat ini hampir ada di diri tiap anak-anak di dunia (sok tau banget sih gue), tapi porsi sifat-sifat ini di jiwa mereka melebihi anak-anak normal lainnya 😀

1. Gampang deket sama mbak-mas KKN ini…

Gak kayak anak-anak yang biasa kutemui, yang biasanya malu-malu, di kesempatan pertama kami bertemu mereka udah heboh setengah mati sepenuh hidup. Mereka menyambut kami dengan suka cita, kayak warga miskin yang rebutan sembako gratis. Setelah pertemuan pertama kami di TPA Jumat sore di Masjid Al Furqon Balangan, esoknya mereka udah main-main ke pondokan KKN. Dan yang menjadi sasaran utama kedatangan mereka adalaah…. LAPTOP dan HAPE, buat main game -,-

Dan mereka pun minjemnya agak maksa gitu… Kalo gak dipinjemin, mereka bakal ngikutin kemana kita pergi ataupun terus ngedon di deket kita sambil terus merengek-rengek minta dipinjemin laptop/hape, dengan bumbu, “Uuuu, mbak-e pelit!” Meski udah dibilangin kalo itu barang lagi kita pakai untuk keperluan yang penting. x(

maen bola dan laptop
maen bola dan laptop

Mereka bergentayangan di pondokan setiap hari. Siang, sore, kadang malem, anak-anak gak pernah absen meramaikan rumah. Bahkan habis Shubuhan kalo itu hari libur, mereka udah nggedok-nggedok pintu buat ngajakin jalan-jalan pagi. Betapa hebat semangat mereka ini!

Pondokan udah berasa kayak rumah mereka sendiri. Kalau pintu gak dikunci, mereka langsung ngeloyor masuk, sampai masuk kamar, nggeledah kasur untuk menemukan laptop yang disembunyikan di bawah bantal. Kalo pintu depan dikunci, dan mereka sengaja enggak kami bukain karena lagi sibuk ngerjain suatu program di dalem rumah meski mereka udah teriak dan gedok-gedok pintu dengan sepenuh tenaga, mereka dengan cerdiknya mendobrak pintu belakang yang kuncinya emang gampang kebuka.

Mereka memang anak-anak yang butuh perhatian. Mereka ingin jadi anak yang spesial dan menonjol di mata kita, dengan cara-cara mereka sendiri. Butuh usaha yang cukup besar untuk mengatur mereka. Karena mereka selalu tertarik untuk meminjam laptop ataupun hape, akhirnya kami melakukan negosiasi. Mereka boleh pinjam, dengan syarat dan ketentuan berlaku. Misal udah shalat dan hafalan surat pendek. Ternyata masih ada anak yang belum paham tentang tata cara shalat, trus akhirnya mereka latihan shalat bareng-bareng sampai suaranya mbak Rindi serak ^^b Belajar ibadah gak harus pas TPA atau sesi pelajaran agama di sekolah kan 😉 Alhamdulillah, mereka jadi lebih rajin shalat lima waktu 🙂 Anak-anak kalau bener-bener diopeni, insya Allah bisa berkembang dengan baik^^

2. Suka bohong dan gak mudah percaya sama orang

Kadang mereka suka ambil makanan di meja, trus katanya udah bilang sama yang punya, padahal belum… Kadang demi mendapatkan pinjaman laptop, mereka ngakunya udah shalat, padahal belum… Gimana cara tau kalo mereka kayaknya bohong? Mereka waktu ngomong gak mau mandang mata kita.

Efek dari maraknya kebohongan di lingkungan itu, mereka juga jadi gak mudah percaya sama orang. Pernah suatu saat aku sedang pergi ke kota di hari yang panas berpeluh-peluh mencari kaset Tari Badui untuk keperluan pentas mereka. Ternyata kaset yang dicari tak kutemukan karena minimnya petunjuk. Sepulangnya dari petualangan yang cukup melelahkan itu aku ditanya adek-adek, “seko ngendi e mbak? (dari mana mbak?)”. “Dari kota nih, nyari kaset buat kalian, tapi gak ketemu e..,” jawabku. “HUU, NGAPUSIII…,” kata salah seorang adek. deg! betapa sakit hatiku ini. Aku udah capek-capek nyari kaset demi kebahagiaan kalian, dan itukah responmu, dek? *bersimbah air mata* #lebay

Hmm, kayaknya aqidah mereka perlu ditempa nih. Mereka belum sadar bahwa setiap gerak-gerik mereka diperhatikan Allah, bahwa setiap perbuatan dicatat malaikat dan mendapat ganjarannya di akhirat kelak. Akhirnya, setiap mereka bilang mereka udah shalat ataupun mengatakan sesuatu yang bagiku meragukan, mereka kuambil sumpahnya. “Demi Allah? Allah Maha Melihat lho. Kalau bohong nanti dicatat malaikat Atid lho. Kalau bohong nanti masuk neraka lho. Pokoknya Mbak gak ikhlas minjemin kalau kamu ternyata bohong, biar nanti pertanggungjawabanmu sama Allah di akhirat nanti!”

Awalnya mereka masih berusaha mempertahankan kebohongan mereka, terus setelah beberapa statement tersebut, mereka terdiam… dan akhirnya, Alhamdulillah, cara ini cukup manjur untuk menguak kebenaran dan melatih kejujuran mereka 😀

3. Kreatif

Anak-anak suka banget main petasan. Sampai-sampai mereka bikin petasan sendiri. Mereka nemu petasan gede yang mandul (udah dinyalain tapi gak meledak), trus mereka bikin petasan kecil-kecil dari mesiu yang ada di dalam petasan gede tadi, pakai kertas, lem, dan sumbu tali. Entah akhirnya petasan itu bisa meledak atau enggak, aku gak tau :3 Tapi setidaknya, mereka sudah mau memutar otak untuk memproduksi petasan sendiri, gak cuma konsumtif menghabiskan uang untuk beli petasan 😀

Contoh bukti kekreatifan lain mereka, bermodalkan kaleng bekas, karet, dan potongan bambu kecil, mereka menciptakan alat yang dipasang di roda sepeda mereka sehingga kalo sepeda dijalankan berbunyi TOK TOK TOK TOK, kayak tukang bakso (atau tukang apa ya yang bunyinya gitu?) lewat. Sayangnya, hasil cipta karya mereka ini gak sempat difoto…

Kepolosan dan kejernihan otak anak-anak membuat mereka mampu memunculkan berbagai ide cemerlang yang terkadang cuma dipandang sebelah mata sama orang dewasa. Namun, kita tahu bahwa pembelajaran itu bertahap sedikit demi sedikit. Awalnya mungkin mereka membuat karya yang sebenernya gak begitu banyak manfaatnya terasa secara langsung, atau bahkan agak mengganggu kayak suara TOK TOK TOK yang dihasilkan sepeda mereka. Tapi siapa tahu ketrampilan mereka ini menjadi modal untuk menciptakan karya-karya selanjutnya yang spektakuler! 😀

4. Bersemangat, meski banyak halangan merintang

Masjid Al Furqon, salah satu masjid di Dusun Balangan, hari miladnya ternyata berbarengan dengan saat kami KKN. Dari tahun ke tahun selalu ada event memperingati hari milad ini yang diisi dengan berbagai acara. Biasanya kalau ada mbak mas KKN di Balangan, adek-adek dibina untuk pementasan tari. Masalahnya, acara peringatan milad diajukan dua pekan dari tanggal seharusnya. Milad masjid tanggal 8 Agustus, sedangkan peringatan milad diajukan pada tanggal 23 Juli. Otomatis waktu yang dimiliki untuk persiapan pentas menjadi lebih sedikit.

Awalnya, kami mahasiswa KKN tidak berinisiatif untuk mengajukan diri melatih pementasan anak karena memang waktunya yang sudah mepet. Namun, adek-adek ingin tampil di panggung. Okelah, kita coba ajarkan sesuatu yang pantas untuk ditampilkan, meski di antara kami gak ada yang berpengalaman nari di panggung. Waktu itu kita coba latihan Tari Saman dengan lagu Yaa Thoibah dan gerakan yang disederhanakan. Ternyata gerakan ini masih cukup susah untuk mereka… Sepertinya memang cukup susah untuk menyempurnakan tarian ini sampai hari H pementasan karena waktunya tinggal sepekan lagi dan adik-adik kurang bersemangat karena gerakannya agak membingungkan…

semangat latihan tari badui
semangat latihan tari badui!

Akhirnya mereka memutuskan sendiri, mereka akan menari Tari Badui (lagi) karena mereka sudah pernah perform tarian tersebut dua tahun yang lalu di event yang sama. Yang mengatur siapa orang-orangnya, ngajakin latihan pentas, itu dari mereka sendiri. Kami mahasiswa KKN jarang menyuruh-nyuruh mereka untuk mengumpulkan orang dan latihan. Masalahnya, mbak mas KKN ini gak ada yang pernah kenal sama Tari Badui. Jadi, mereka latihan secara mandiri deh, kami hanya mengawasi dan mencoba membantu dalam fasilitas pentas.

Untung ada salah seorang anak yang menyimpan CD Milad Al Furqon tiga tahun yang lalu, di mana pemuda-pemuda saat itu juga pentas Tari Badui. Sayangnya, CDnya udah banyak scratches-nya, dan bagian yang rusak kok ya pas Tari Badui-nya 😦 Jadi latihannya kurang maksimal… Untung batasan itu tidak membuat mereka putus asa dan mundur. Mereka terus mikir gimana caranya biar mereka tetep bisa pentas. Mereka minta tolong carikan kasetnya, katanya suruh tanya-tanya ke mbak KKN tahun sebelumnya atau ke mbak Shinta guru tari di SD Balangan 1. Trus mereka juga berinisiatif tanya-tanya sendiri ke pemuda yang dulu pernah ngurusin pementasan mereka. Minta tolong dicariin kostum pentasnya… Pokoknya konsep+pelaksanaan hampir full dari mereka, kami cuma menyediakan fasilitas. Padahal mereka masih kecil-kecil lho, rentang kelas 2-4 SD. Dan lagi, mereka melakukan ini semua cuma tiga hari sebelum hari H. Salut deh buat mereka! 😉

siap beraksi di panggung!
siap beraksi di panggung!
5. Setia kawan

Untuk persiapan pentas Tari Badui, “pemimpin” anak-anak itu nyariin siapa aja yang bakal mau ikut pentas. Ternyata, totalnya ada sembilan anak. Wah, padahal di Tari Badui, jumlahnya harus genap! Kostumnya pun udah kadung dipesen cuma enam set. Akhirnya mereka mengeliminasi salah satu teman mereka. Si tereliminiasi kecewa berat pastinya! Nangis berjam-jam tak henti-henti. Diajak maafan, gak mau. Ditanyain maunya gimana, gak jawab.

Akhirnya, setelah agak reda dan diantar pulang, temennya tanya, “saiki kowe geleme opo wis? (sekarang kamu maunya apa deh?)”. Akhirnya dijawab, “Layangan kotak 5…”. “Waduh, larang e kuwi,” pikir Mukti, yang tadi nanyain. Buahahaha, aku ketawa pas diceritain sama Mukti. Lucu banget sih kalian! xD Trus akhirnya mereka urunan buat beliin layangan itu, sisa kekurangan duitnya kami tutup 😀

6. Peka
bocah balangan ngepel lantai
ngepel lantai, cuma sepetak tapi heboh dan lama...

Walaupun ngglidik-ngglidik, anak-anak ini baik-baik dan peka sama sekeliling mereka. Pernah aku lagi tugas harian ngepel lantai pondokan, mereka menawarkan diri untuk membantu mengepelkan 😀 Walaupun akhirnya mereka malah kayak mainan air bareng-bareng, pake sapu buat ngepel karena alat pel-nya kurang, trus saking rajinnya lantai tak berkeramik pun dipel, dan karena teknik mengepelnya kurang sip, sebenarnya mereka malah membuat lantai semakin kotor -,- setidaknya kegiatan ini mampu membelajarkan mereka untuk bersih-bersih bersama, hehe.

——————————————————————-

Doa kami, semoga kalian jadi pribadi yang lebih baik lagi, jangan pernah bohong lagi, belajar yang rajin biar naik kelas, jangan takut untuk bermimpi tinggi! Percayalah bahwa kalian diciptakan Allah swt untuk menjadi orang bandel yang membuat dunia ini menjadi lebih baik lagi! Aamiin 🙂 🙂 🙂

Iklan

Penulis: fayruzrahma

always trying to be a simple person :)

Ada komentar?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s