Sungguh, Skenario Allah Selalu Indah :) [Part 1]

Jumat, 16 September 2011

Telkom IndonesiaPagi itu saya mendapat kabar yang cukup menggembirakan. Setelah menunggu hampir sebulan, saya dan mbak Alvi akhirnya diterima kerja praktek di PT.Telkom-Infratel, Jakarta. Kata Pak Azis, calon pembimbing kami di perusahan telekomunikasi indonesia itu, kami bisa mulai kerja hari Senin, 19 September 2011. Namun, kami masih harus menunggu kepastian dari Bu Dede -yang bekerja di bagian logistik dan administrasi di divisi yang akan kami masuki-ย terkait dengan surat resmi kerja praktek kami.

Wow, persiapannya bakal mepet banget nih, pikir saya. Kami harus menyiapkan berkas-berkas hari ini juga, karena hari Sabtu dan Ahad kan kantor Tata Usaha (TU) tutup. Tapi, kapan ya kepastian dari Bu Dede datang? Kita tunggu dulu aja deh…

Saya segera mengirim sms kepada teman-teman saya perihal kepergian saya ke Jakarta selama sebulan ini. Memohon maaf karena cuti meninggalkan amanah di Jogja, memundurkan perjanjian proyek, memastikan pengganti pengampu amanah yang saya punya, ataupun sekedar pemberitahuan aja.

Saat itu plan saya untuk hari Jumat-Sabtu sudah cukup banyak, dan sepertinya tidak bisa ditinggalkan ataupun direlokasi jadwal. Saya akhirnya meninggalkan mbak Alvi yang sedang menunggu kepastian dari Bu Dede sendirian di kampus. Saya melanglangbuana ke kampus JTETI-Balangan, Minggir-Fak Pertanian-SMK 2 Yk-SMA N 1 Yk.

Konfirmasi dari Bu Dede masih belum hadir. Akhirnya jam 14.30 saya pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, barulah datang sms dari mbak Alvi, bilang kalau Bu Dede udah OK. Tapi, mbak Alvi udah di rumah, gak enak badan. Jadi, sayalah yang saat itu juga harus mengurus perijinan kuliah di kampus.

Dengan asumsi TU tutup jam 16.00, saya makan siang dulu, membatalkan janji saya dengan teman yang minta bantuan sore itu, mengeprint bukti kalau kami diterima kerja praktek, lalu langsung cabut ke kampus. Jam 15.40 saya tiba di kampus. Kantor TU masih menyala terang-benderang. Ada seorang bapak, namun tidak ada satupun pegawai TU di sana.

“TU-nya masih buka gak Pak?” tanya saya pada bapak itu.

“Sudah tutup mbak,” jawab beliau.

JEDENG. terus ini gimana perijinannya yak? >o< (panic) Akhirnya bermodalkan nekat saya cuma menyelipkan bukti diterimanya kerja praktek kami ke dalam buku besar yang biasa digunakan untuk mencatat daftar kerja praktek mahasiswa. Nanti biar saya hubungi Mas Yaenuri (salah satu pegawai TU) lewat facebook saja deh ๐Ÿ˜›

Saya segera menghubungi mbak Alvi tentang berita buruk ini. Akhirnya beliau bilang besok Senin akan telepon langsung ke Mas Yae saja. Alhamdulillah, untunglah mbak Alvi punya nomer beliau. Untunglah kami kenal dekat dengan Mas Yae.

Permasalahan selanjutnya adalah, mau naik apa kami ke Jakarta? Belum pesan tiket nih. Ibu menyarankan untuk naik pesawat aja, kalau barangnya banyak. Tapi kata Bapak biasanya tiket pesawat weekend gini udah habis. Mbak Alvi rencananya mau naik kereta Sabtu malam.

Sambil menunggu jawaban perijinan naik kereta oleh ortu, saya melarikan diri saya ke Jalan Parangtritis, rumahnya Fery, tempat Syawalan Night Login (NL) -perkumpulan anak IT UGM- dan pemilihan Ketua NL baru berlangsung. Saya merasa butuh hadir di forum ini, karena yang punya gaweย kan angkatan saya. Didapuk untuk bantuin ngurusin konsumsi pula.

Sekitar jam 5 sore, Bapak telepon, bilang kalau Ibu udah OK naik kereta. Alhamdulillah, untunglah Bapak-Ibu saya kenal dekat dengan Bapak-Ibu-nya mbak Alvi karena kami mantan tetangga di Jambusari, Condongcatur. Ibu kami pun saat ini masih aktif di Dharma Wanita UGM di divisi yang sama. Oleh karena itu, orang tua saya tidak terlalu khawatir melepas kepergian saya ke Jakarta bersama mbak Alvi tanpa sanak saudara.

Karena sudah jam 5 sore, sepertinya cukup mengerikan pergi ke Stasiun Tugu sendirian. Takut sama preman. Loket penjual tiket pun sepertinya jam 5 sudah tutup. Gak nyandak kalau saya pergi ke stasiun saat itu juga. Akhirnya saya memutuskan untuk beli tiket esok pagi saja.

Sabtu, 17 September 2011

Penyakit saya kambuh. Kalau udah buka internet baca komik online, susah berhentinya. Apalagi serial Dengeki Daisy ini lagi seru-serunya. Jam 8 pagi, asisten ibu saya bilang kalau warung sayur tempat biasa belanja, akan tutup beberapa hari. Ibu saya sedang di Jakarta menemani nenek saya yang sedang terbaring di kasur RS Cipto Mangunkusumo. Saya sebagai satu-satunya anak perempuan tentu saja berkewajiban menggantikan peran ibu saya. Berbelanja.

Jam 10.30 pagi, setelah berpeluh-peluh di Kranggan angkat belanjaan bolak-balik pasar-mobil-pasar-mobil-pasar-mobil karena adek saya gak mau saya ajak mbantuin belanja di pasar, saya baru berangkat untuk membeli tiket. Saya was-was kalau-kalau tidak dapat tiket karena ini kan weekend.

Saya masuk stasiun lewat pintu selatan, celingak celinguk bertingkah dungu karena ini pertama kalinya saya beli tiket kereta api. Melihat jadwal kereta, membaca daftar harga, mengamati orang-orang sekitar tentang cara pemesanan tiket. Mau tanya satpam, tapi takut ketahuan orang lain kalau saya cupu terus nanti ditipu calo.

Stasiun Tugu YogyakartaLalu saya teringat bahwa mungkin uang di dompet saya tak cukup untuk membeli tiket. Nyari ATM, kembali ke bagian pemesanan tiket di Pintu Selatan. Akhirnya saya beranikan diri untuk bertanya pada satpam.

“Pak, saya kan baru pertama kali mau beli tiket kereta nih. Caranya gimana ya Pak? Langkah-langkahnya gitu?” tanya saya.

“Untuk tiket kapan kemana mbak?”

“Hari ini, Pak, ke Jakarta.”

“Kalau untuk hari ini, belinya di bagian utara stasiun mbak, loket nomor 4-5.”

Alhamdulillah, saya bertanya pada orang yang benar. Saya segera membelah stasiun, mengantri di loket utara. Mengamati cara pembelian tiket yang dilakukan orang-orang di depan saya. Alhamdulillah, tiket kereta ke Jakarta belum sold out. Tangan saya berhasil menggenggam kertas bertuliskan Taksaka Malam itu.

Saya lalu memenuhi janji saya ke beberapa teman saya. Ke daerah ujung tenggara Jogja, lalu ke SMA N 1 Yk. Niatnya mau perpisahan kelompok Pukat, karena alhamdulillah kebetulan juga pas kelompok Pukat regrouping.ย Jadi saya tak perlu pusing memikirkan mentor pengganti selama saya di Jakarta.

Niat tersebut gagal dilakukan karena beberapa personil kelompok tidak bisa hadir. Saya pun telah disms Bapak saya, “Nanti malam mau ke Jakarta kok jam segini (14.30) belum pulang dan packing?”. Setelah obrolan diskusi bareng Dicha yang membuat saya tertohok, jam 15.30 saya pulang ke rumah. Packing segala macam barang yang dibutuhkan, bersiap-siap ke Stasiun Tugu.

Jam 5 sore, HP saya bergetar. SMS dari Ibu. “Tuo koma. Kamu masih mau tetep ke Jakarta?”

“Tuo” itu bahasa Minang dari nenek.

Mungkin maksud Ibu, saya menggantikan peran ibu dulu di rumah sampai ibu pulang ke Jogja, baru saya boleh berangkat kerja praktek ke Jakarta. Tapi Bapak dan saya memutuskan saya tetap ke Jakarta. Kan sudah beli tiket. Sudah bilang sama orang Telkom kalau mau masuk Senin. Masak mbak Alvi nanti magang sendirian… Toh kita juga gak tahu sampai kapan Tuo koma.

Taksaka

Singkat cerita, Taksaka Malam yang mengangkut saya, mbak Alvi, dan ratusan penumpang lainnya meninggalkan Kota Jogja tepat jam 20.00 ๐Ÿ™‚

Bersambung… di Part 2, Skenario-Nya yang lebih indah! ๐Ÿ™‚

Iklan

Penulis: fayruzrahma

always trying to be a simple person :)

Ada komentar?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s