Sungguh, Skenario Allah Selalu Indah :) [Part 2]

Ahad, 18 September 2011

Jam 05.00, Taksaka Malam sampai di Stasiun Jatinegara, stasiun terdekat dari rumah Eyang Fatchur, Om-nya Bapak saya. Kami, saya dan mbak Alvi, memang belum mendapatkan kos-kosan yang dekat dengan kantor, jadi rencananya kami akan menginap di rumah saudara masing-masing untuk sementara waktu. Tapi langit di luar masih gelap, stasiun masih sepi nyenyet. Saya gak berani turun di stasiun ini lalu mencari taksi sendirian. Terlalu riskan untuk perempuan. Akhirnya saya melanjutkan perjalanan ke Stasiun Gambir dan shalat Shubuh di kursi kereta.

Jam 05.15, Taksaka Malam sampai di Stasiun Gambir. Mbak Alvi dijemput oleh Bulik, Om, dan sepupunya. Saya menuju pool taksi, naik Bluebird ke Waringin Permai, rumah Eyang Fatchur. Untuk urusan taksi, Bapak memang concern banget, berkali-kali bilang kalau saya mau naik taksi, harus Bluebird, karena lebih aman. Kekuatan brand emang keren banget deh…

Jam 07.30, Bapak telepon. Rupanya Eyang Choliq (ibunya Bapak) menyuruh Bapak ke Jakarta, menemani Ibu yang sedang menemani Tuo yang koma. Akhirnya Bapak dapat tiket pesawat ke Jakarta jam 09.40. Jadi, sekitar jam 10.40 Bapak sudah sampai Jakarta.

Jam 11.50, Bapak sampai rumah Eyang Fatchur. Setelah berbincang-bincang beberapa saat, Shalat Dzuhur dan Ashar dijamak, saya dan Bapak naik mobil eyang ke RSCM.

————————————————————————

Jam 13.30, kami sampai di RSCM, langsung menuju ruang ICCU (Intensive Coronary Care Unit). Banyak sekali orang di ruang itu, hampir semuanya tidak saya kenal. Padahal ternyata orang-orang tersebut masih berhubungan darah dengan saya. Keluarganya Tuo. Parah nih Fayruz…

Alhamdulillah, terima kasih ya Allah karena telah mempertemukan saya dengan keluarga-keluarga saya yang lain, yang tidak pernah saya temui. Sebagian besar yang tidak saya kenal adalah sepupu-sepupunya Ibu beserta anak-anaknya yang juga sudah besar-besar, lebih tua dari saya. Tuo saya memang merupakan anak ragil.

Tuo tidak ada di kamarnya, katanya lagi dicuci darah. Tak berapa lama, Tuo yang matanya tertutup dan terbaring lemah di ranjang, didorong masuk ke kamar, bersama Ibu.

Infus
Alat Infus, cairan obat, dan belalai2nya.

Sosok Tuo benar-benar berbeda dari yang terakhir kali saya lihat. Tiga bulan lebih sepertinya saya tak pernah bertemu beliau. KKN dua bulan salah satu penyebabnya. Dulu Tuo masih sehat (kelihatannya), masih senyam-senyum, masih bisa jalan-jalan (meski pelan dan terpincang-pincang karena lututnya sakit. Osteoklerosis), masih kasih duit banyak buat hadiah ulang tahun saya :3. Sekarang bueda sekali. Tak tampak senyum di wajahnya, raut mukanya menunjukkan betapa sakitnya diri beliau dihujami berbagai belalai buatan.

Ibu lalu bercerita pada sanak saudara bahwa Tuo dicuci darah karena tidak ada urine yang keluar di kantong pipis. Padahal sudah di kateter. Padahal kata dokter ginjalnya bagus…

————————————————————————

Kenapa Tuo bisa koma?

Ceritanya, tak seperti biasanya yang selalu berlebaran di rumah beliau di Salatiga, Tuo berlebaran di rumah Uncu (Om) saya di Jakarta. Tumben sekali Tuo mau diajak pergi-pergi, biasanya gak mau dengan alasan lututnya yang sakit, nanti ngerepotin orang, malu naik kursi roda di bandara, dan beribu alasan lainnya.

Beberapa hari setelah lebaran, Tuo mengeluhkan perutnya yang sakit buanget, sampai ngguling2. Oh, rupanya kejadian serupa pernah terjadi di rumah beliau saat bulan Ramadhan. Dokter sahabat Tuo menyarankan agar Tuo tidak usah berpuasa, agar kondisi perut beliau tidak makin parah. Rupanya Tuo tak bilang ke Uncu kalau beliau dilarang puasa. Beliau tetap berpuasa, karena mikir nanti repot ngganti puasanya, dan sebagainya.

Akhirnya beliau dibawa ke RSCM, tempat di mana Angko Gadang dr. Haidir (sepupu Ibu) bekerja. Kalau ada saudara yang jadi dokter kan enak, penjelasan jadi lebih mudah dipahami, istilah2 kedokteran diserahkan pada yang ahli.

Pertama, Tuo dicek lambungnya. Laporan dokter mengatakan kalau lambung beliau baik-baik saja. Lanjut ke usus 12 jari, usus halus, usus besar, sampai anus, kok OK semua. Tapi dari hasil pemeriksaan feses, ditemukan darah. Berarti harusnya ada apa-apa dong. Pengecekan diulangi lagi, dengan lebih detail. Lambung beliau dicek lagi, dengan sebelumnya dibius total.

Ketemu! Ada luka kecil di lambungnya. Kok ya baru ketemu sekarang tho. Untungnya pengobatan2 sebelumnya sudah cocok dengan hasil diagnosa ini.

Rupanya jantung Tuo gak kuat karena pembiusan total ini. Terjadilah serangan jantung pada Jumat malam.

————————————————————————

Monitor Grafik di ICCU
Indikatornya lagi orens! grafik hijau: detak jantung. biru: kadar oksigen. kuning: respirasi. angka merah paling bawah: tekanan darah. cmiiw

Jam 15.30, kondisi Tuo cukup stabil, walaupun tidak bisa dikatakan baik. Beberapa kali alat di ICCU itu menyala berkelap-kelip orens atau bahkan merah, dengan suara ting tung ting tung yang menggema. Mirip banget sama suaranya Ultraman pas energinya sudah mau habis. Aku heran, kok ini orang-orang gak panik sih denger suara ini. Dokter Haidir aja gak heboh. Baru kalau indikatornya nyala merah, ada suster yang datang menyuntikkan suatu cairan ke dalam salah satu belalai, dan Tuo terlihat kesakitan. Lalu angka-angka di layar terlihat naik lagi…

Sudah beberapa hari lambung Tuo tidak pernah diisi nutrisi apapun. Sumber energi cuma didapat dari cairan infus. Tentu ini tidak baik untuk lambung Tuo, nanti lama kelamaan lambungnya bisa kelet dan tidak berfungsi dengan baik. Solusinya adalah dengan memasukkan selang makanan melalui hidung.

Tetapi pemasukan selang ini tidak berani dilakukan oleh dokter, karena ada masalah di saluran pernafasan Tuo. Kalau suplai oksigen dilepas untuk keperluan masukin peralatan tersebut, angka respirasi jadi turun, indikatornya bunyi ting tung ting tung lagi. Cara mengatasinya adalah dengan melakukan inkubasi (??) di tenggorokan (semacam dimasukkan alat ke tenggorokan).

Problem lainnya, dulu Tuo sudah ngendika berkali-kali, beliau kalau sakit gak mau dipasangin alat-alat yang aneh-aneh. Dibawa ke ICCU ini saja Tuo sebenarnya tidak mau, minta pulang ke gedung yang perawatannya biasa saja. Dengan adanya permintaan dokter untuk melakukan inkubasi ini, ketiga anak Tuo bingung. Ada yang memilih untuk tidak menyetujui permintaan dokter karena pemasangan alat tersebut tidak menyembuhkan, hanya memperpanjang life time. Ada juga yang pro dokter untuk memasang alat tersebut, karena kalau alat itu tidak dipasang, Tuo tidak bisa makan. Kalau alat itu tidak dipasang, kami hanya bisa pasrah, tidak melakukan apa-apa. Padahal kita kan harus berusaha yang terbaik.

Kegalauan ketiga anak Tuo itu berlangsung berjam-jam. Kakak Tuo yang biasa kupanggil Inyik Amjad, menyarankan untuk tidak memasang alat tersebut. Sepupu Ibu, dokter Haidir, angkat tangan, terserah anak-anak Tuo mau memilih opsi apa.

Saya bingung harus berbuat apa. Saya lantunkan Al-Fatihah, sepuluh ayat Al-Baqarah, dan ketiga surat Qul (Al Ikhlas, Al Falaq, An Naas) di telinga Tuo sambil mengusap-usap rambut beliau yang telah memutih. Setelah selesai, saya bingung lagi mau ngapain.

Tiba-tiba mbak perawat bertanya pada saya, “Ada headset gak? Yang biasa untuk walkman itu.”

“Wah enggak e mbak.. Kenapa?”

“Kalau ada, nanti bisa di pasang di telinga nenek, buat ndengerin ayat-ayat Al-Quran…”

Alhamdulillah, terima kasih ya Allah engkau hadirkan mbak perawat yang baik, yang memberikan ide brilian itu.

Karena HP saya rusak tidak bisa mengeluarkan suara, saya kirimkan file-file murotal ke HP Ibu. Terdengarlah lantunan ayat suci di ruang tersebut.

————————————————————————

Jam 20.15, keputusan tentang pemasangan alat di tenggorokan itu belum juga diambil. Semakin lama lendir di paru-paru Tuo makin banyak dan memengaruhi pernapasannya. Lendir ini tidak bisa asal disedot karena bersarang di bagian alveoli. Saya dan Bapak memutuskan untuk pulang ke rumah Eyang Fatchur karena tidak enak kalau mengembalikan mobil terlalu malam.

Saat saya mau keluar dari ruangan, lampu indikator itu berkelip-kelip dan ting-tung-ting-tung lagi. Angka tensi menurun. Kupikir itu hal biasa, paling nanti suster nyuntik obat lagi dan angka itu bisa naik lagi. Kami tak acuh tetap turun menuju tempat parkir.

Kami sudah berada di dalam mobil. Kendaraan melaju menuju gerbang pintu keluar RSCM. Tiba-tiba HP saya bergetar. Ibu telepon.

“Eh, wis tekan ngendi? Balik-balik, ini kondisi Tuo makin menurun, hampir gak ada.”

DEG. Beneran nih? Kami bergegas naik lagi menuju ruang ICCU.

Tampak ketiga anak Tuo sedang membacakan syahadat berkali-kali sambil memeluk Tuo. Monitor menunjukkan angka yang kecil sekali. Tante Dea memegang kaki Tuo. Dingin.

Jam 20.40, Tuo telah tiada.

Tuo telah tiada
Inna lillaahi wa inna ilaihi raaji'uun...

Terima kasih Ya Allah, Engkau mengambil beliau di waktu yang tepat.

Ibu, Makdhang (panggilanku untuk kakak Ibu), dan Uncu, tidak perlu lagi galau memikirkan apakah mau memasang alat untuk melancarkan pernapasan Tuo atau tidak.

Ketiga pasang anak dan menantu Tuo hadir di detik-detik terakhir beliau, terima kasih Ya Allah telah membuat Bapak menyusul ke Jakarta melalui desakan Eyang Choliq. Jika tidak disuruh Eyang, mungkin Bapak tidak menyusul ke Jakarta karena himpitan tugas dan amanah di kantor.

Terima kasih ya Allah telah mengatur agar saya bisa menemani Tuo di detik-detik terakhir beliau. Ini pengalaman pertama saya melihat proses meninggalnya orang. Andaikan saya tidak kerja praktek di Jakarta, tentu saya tidak akan bertemu Tuo lagi. Saya tidak akan mengenal saudara-saudara saya yang begitu banyaknya di Jakarta.

Terima kasih Ya Allah, Engkau telah mengatur agar beliau diambil nyawanya di Jakarta. Sehingga beliau pergi tidak sendirian, ditemani kakak-kakak beliau yang masih hidup, dan saudara-saudara lainnya.

Saudara2 di Jakarta
jam 00.30. saudara2 di Jakarta masih setia menunggu (tiket). (1)
Saudara2 Jakarta
Jam 00.30. Saudara2 masih setia menunggu

Terima kasih Ya Allah, berkat mbak perawat baik hati itu, kepergian Tuo diiringi oleh lantunan ayat-ayat suci-Mu.

Saya telepon mbak Alvi. Ada kabar lain yang mengejutkan. Ternyata kami belum bisa mulai kerja praktek hari Senin, surat resminya belum keluar. Paling cepat kerja praktek baru bisa dimulai hari Kamis!

Saya tidak perlu ijin kerja. Saya ditakdirkan ke Jakarta Sabtu malam itu sepertinya memang untuk bertemu dengan Tuo yang terakhir kalinya. Terima kasih Ya Allah. Sungguh, skenario-Mu memang yang terindah!

————————————————————————

Senin, 19 September 2011

Bandara Adi Soemarmo, Solo.

Jam 09.15. Sambil menunggu jemputan mobil yang akan membawa kami ke Salatiga, saya membuka 0.facebook.com, satu-satunya akses jejaring sosial yang gratis. Ternyata ada info penting bin bahagia:

info fast track
Info penerimaan beasiswa Fast Track

Ya Allah, momennya tepat banget! Andai keadaan berjalan normal dan sesuai rencana, tentu saat ini saya sedang duduk di ruang kerja di PT Telkom Jakarta. Andai Tuo tidak meninggal dan waktu kerja praktek tidak mundur, tentu saya tidak bisa hadir di pertemuan ini.

Karena kejadian ini, saya jadi bisa hadir di pertemuan itu, mendapatkan berkas-berkas yang dibutuhkan, serta menerima penjelasan yang lebih detail dan lebih bisa dipahami dari dosen dan teman-teman saya.  Skenario Allah memang cantik sekali!

Aaaa, terima kasih ya Allah telah memudahkan segala urusanku, telah memberiku nikmat dan pengalaman yang begitu bermanfaat nan mengesankan.

Selalu ada hikmah yang banyak dari setiap kejadian. Semoga berkat semua ini saya dapat menjadi pribadi yang semakin dekat dengan-Mu dan tidak pernah lupa bersyukur. Aamiin…!

Iklan

Penulis: fayruzrahma

always trying to be a simple person :)

2 thoughts on “Sungguh, Skenario Allah Selalu Indah :) [Part 2]”

Ada komentar?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s