Menuju Cloud Computing yang Handal

Jangan harap artikel ini akan membahas apa itu Cloud Computing. Di internet sudah banyak dijelaskan apa itu Cloud Computing dengan bahasa yang cukup mudah dipahami, jada saya tidak perlu menjelaskan ulang dengan bahasa saya yang mungkin malah bikin ruwet dan makin gak mudeng 😛

Cloud Computing memang semakin terkenal beberapa tahun terakhir ini. Konsekuensinya, jumlah permintaan (rikues) penggunaan Cloud Computing beserta resource (memory, prosesor, dsb) yang dibutuhkan untuk setiap permintaan semakin meningkat. Berbeda dengan Grid Computing yang mampu menempatkan permintaan dalam antrian apabila seluruh resource sedang terpakai, Cloud Computing akan menolak permintaan apabila resource tidak tersedia. Satu-dua kali, oke lah. Tapi kalau sudah banyak permintaan yang gagal sampai-sampai performa tidak memenuhi Service Level Agreement (SLA), Cloud dianggap tidak handal/reliabel.

Tantangan bagi provider (penyedia layanan Cloud Computing) adalah untuk menyediakan alokasi resource yang cukup secara cepat saat ada permintaan layanan sehingga peluang permintaan ditolak kecil. Caranya adalah dengan menambah resource. Tapi ini bikin dilema. Penyediaan dan perawatan resource membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Nambah satu hardware aja butuh puluhan hingga ratusan juta. Belum lagi biaya pendinginan, pembuatan ruangan untuk naruh hardware-nya, teknisi yang bertanggungjawab, dan sebagainya. Kalau salah perhitungan dalam penambahan resource, itu barang akan nganggur, tidak menghasilkan keuntungan, dan uang ratusan milyar terbuang sia-sia!

Tantangan selanjutnya adalah kehandalan Cloud saat suatu permintaan membutuhkan resource dalam jumlah besar atau melakukan komputasi dalam waktu yang cukup lama. Di kasus ini, peluang permintaan gagal dilaksanakan lebih besar. Analoginya, kayak manusia. Kalau dikasih soal 1+1 pasti cepet langsung bilang jawabannya 2. Kalau dikasih tugas yang lebih berat (bikin skripsi, misalnya #eh), bukan tidak mungkin suatu saat akan kecapekan dan desperate dan failed. (semoga tidak terjadi, aamiin. curcol gak ya 😛)

Solusinya adalah dengan memberikan hot-spare (cadangan) nodes yang dialokasikan kepada pengguna, untuk meyakinkan tersedianya resource yang diminta selama durasi layanan. Masalahnya adalah menentukan jumlah hot-spare nodes tambahan untuk menjamin layanan sesuai SLA. Kalau hot-spare nodes-nya terlalu banyak, provider bisa rugi karena resource itu sebenarnya bisa digunakan untuk melayani permintaan lain. Kalau terlalu sedikit, peluang kegagalan layanan masih cukup besar.

Berapakah peluang suatu permintaan layanan ditolak dengan sejumlah resource yang tersedia pada waktu sibuk? Bagaimanakah cara menghitung hot-spare nodes yang dibutuhkan untuk setiap permintaan?

Baca sendiri aja bukunya ya (trollface) Sumbernya dari buku Cloud Computing and Software Services: Theory and Techniques, garapan Syed A. Ahson dan Mohammad Ilyas, di-publish tahun 2009. Recommended buat yang mau memperdalam tentang Cloud Computing. Bahasanya lumayan enak dan ringan. Menuju Cloud Computing yang Handal ada di Chapter 6. Happy reading! 😉

Iklan

Penulis: fayruzrahma

always trying to be a simple person :)

4 thoughts on “Menuju Cloud Computing yang Handal”

Ada komentar?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s