Mencari Ketenangan di Balik Beratnya Ujian Hidup

oleh: Ustadz Syatori Abdurrouf.
di Kajian Rutin Pagi Hari (KRPH) Masjid Mardliyah, Sabtu, 24 Maret 2012, 07.00-08.00
didengarkan dari Radio KRPH

Ketenangan disimpan oleh Allah swt dibalik ujian. Semakin berat ujian, semakin besar peluang untuk mendapatkan kebahagiaan yang sesungguhnya.

Analoginya, aliran sungai berlika-liku. Hidup hakikatnya adalah mengalir. Tapi tidak cukup dengan mengalir. Mengalir mengikuti lika-liku garis takdir yang telah terukir (yang tidak bisa diubah). Cara mengalir yang benar adalah yang sesuai dengan syariat. Masalah sebenarnya dalam hidup adalah mengenai bagaimana cara mengatasi masalah tersebut, bukan banyak dan beratnya masalah tersebut!

Mana yang lebih penting dlm perjalanan hidup menghadapi takdir? Sebelum, ketika, atau sesudah takdir tiba?

Ketiganya penting, tapi yang lebih penting?

Misalnya kita sakit… lebih penting sebelum sakit atau ketika sakit? Kalau orang ketika sakit jadi tidak sabar, karena sebelum sakit ia tidak menyiapkan diri untuk menjadi sakit. Jadi, sebelum takdir itu lebih penting.

Saat sakit, dia sabar karena telah menyiapkan diri. Banyak yang memuji. nyeletuk, “Ya dong, siapa dulu, gue!” à tidak lulus dari takdir sakit karena setelah takdir dia jadi lupa diri. Jadi, yang terpenting adalah setelah takdir. Ini yang jarang terantisipasi.

Kesimpulannya urutannya adalah (dari yang paling penting): setelah takdir – sebelum takdir – ketika takdir terjadi.

Bagaimana agar ketiganya menjadi kebaikan?

Sabar

Sabar, harus dilakukan sebelum takdir, bukan ketika masalah datang. Buktinya? Sabda Rasulullah SAW, “Sabar itu adalah ketika pukulan yang pertama.” Orang bisa sabar saat masalah tiba karena ia sudah menyiapkan diri. Kalau tidak siap, dia akan menawar: “saya butuh waktu untuk bisa sabar” à saat terjadi peristiwa dia belum bisa sabar.

Sabar adalah tabungan yang harus disiapkan. Analoginya, misal tiba-tiba kita kudu beli buku. Kalau ada tabungan kan bukunya bisa langsung dibeli. Kalau belum punya tabungan, nunggu dulu sampai punya uang… nabung dulu… Jadi kalau dikaitkan dengan sabar yang tidak ditabung, saat masalah tiba, kita tidak bisa langsung menghadapi masalah dengan baik.

Ikhlas

Ketika takdir datang, harus ikhlas. Sabar sudah tidak dibutuhkan lagi, yang dibutuhkan adalah ikhlas. Misal kita ditabrak orang, yang kudu dilakukan adalah ikhlas (kelanjutan sabar). Kita tidak bisa ikhlas kalau tidak sabar. Kalau udah ikhlas kan selesai. ga ada masalah. ga dongkol.

Pasrah

Setelah takdir berlalu, kudu pasrah. Semua terjadi karena kehendak Allah. Kalau ada yang memuji kesabaran dan keikhlasan saya, itu bukan urusan saya. Pasrah ini yang bisa memberikan ketenangan.

Jadi, ketenangan dapat dicapai dengan SABAR >> IKHLAS >> PASRAH.

Kewenangan untuk melakukan ketiga itu, ada pada kita. Bukan orang lain. Jadi, jangan menyalahkan orang lain, kalau merasa kesabaran sudah habis. Kalau belum bisa, salahkan diri sendiri.

Bagaimana mencapai ketiga hal tersebut?

Alam diciptakan dengan tiga sifat ini. Misal: pohon. Terima semua keadaan. Kepanasan. Kedinginan. Ga pernah protes. Itu watak alam.

Maka, belajarlah kepada alam. Menyatu dengan alam. Caranya: peliharalah alam. Hidup bersama alam.. Orang-orang yang hidup dekat dengan alam, mudah sekali untuk sabar, ikhlas, dan pasrah. Orang kota dan orang desa, siapa yang lebih sabar? Siapa yang lebih ikhlas? BBM naik: orang kota, demo; orang desa, pasrah.

Problem masyarakat sekarang: mereka menggantungkan diri bukan kepada alam, tapi kepada teknologi. Pergunakan teknologi ketika sangat membutuhkan. Kalau tidak butuh, ya tidak usah pakai. Misal pergi jarak 100 meter, ya jalan kaki aja ga usah naik motor.

Cara selanjutnya, sibuk menyiapkan diri. Menanti takdir yang terbaik dengan menyibukkan diri. Misal ada wanita duduuuuuk terus, ditanya: lagi ngapain? jawabnya: nungguin jodoh. dia sabar? iya kali. tapi apakah jodohnya akan datang? ga ada lah laki-laki yang mau sama wanita yang gak ngapa-ngapain gitu. Beda dengan wanita yang sibuk ngaji, sibuk menebar kebaikan, sibuk belajar, pasti banyak laki-laki yang mau 🙂

Contoh lain, kalau ada orang sakit, ga berobat, bilang: “saya pasrah aja”. Itu bukan ikhlas dan pasrah, itu putus asa. Kalau sabar dan ikhlas, dia akan berusaha berbagai cara yang baik untuk mendapat kesembuhan. Hasilnya pasrah kepada Allah swt.

Bagaimana cara menyibukkan diri?

Sibukkan diri seperti menyambut tamu. Takdir adalah tamu terbaik. Tamu harus disambut dengan baik. Kalau datang, kita akan bersyukur tiada tara. Kita tidak melihat siapa tamunya, tapi bagaimana cara terbaik untuk menyambut tamu tersebut, bukan bagaimana bentuk tamu tersebut.

Cara menyambut takdir terbaik?

Berdirilah selalu di pintu gerbang kehidupan. Di mana pintu gerbangnya?  Nama gerbang itu adalah WAKTU. Waktu kehidupan. Dengan cara apa? Sedetikpun waktu yang ada pada kehidupan, tidak pernah dibiarkan kosong dari pikiran, perasaan, dan perbuatan yang baik.

Yang tidak berdiri pada gerbang waktu, dia menyerahkan dirinya dijajah oleh syaitan. Orang yang kosong itu bukan cuma ngelamun lho. Misal nonton bola, itu pikirannya kosong =)) Maka, orang-orang seperti itu lebih mudah dijajah syaitan. Misal adzan datang, lebih mengutamakan mana? sholat apa bola? hayo…

Pikiran yang baik adalah pikiran yang jernih, sejernih embun. Lagi-lagi kita belajar pada alam. Kita menyadari bahwa apapun yang terjadi itu seizin Allah. Semua hal disimpulkan bahwa semua ini adalah izin Allah. Misal, laki-laki melamar wanita, ternyata ditolak. Kalau ngerasa sakit karena penolakan itu, berarti pikirannya ga jernih. Kalau jernih, dia sadar kalau itu takdir Allah. Kalau pikirannya jernih dia akan sadar dan sabar.

Perasaan yang baik adalah perasaan yang sejuk. Embun juga sejuk. Embun ada di pagi hari. Orang-orang yang sabar ikhlas dan pasrah adalah orang-orang yang tidak pernah menunda. Segala sesuatu dilakukan “sepagi mungkin”. Tidak pernah menunda sabar, ikhlas, dan pasrah.

Saya ikhlasnya nanti saja” –> XXX perkataan yang dilarang XXX . Berarti dia tidak berada di pintu gerbang waktu. Kalau dia gak di pintu gerbang kehidupan, dia gak pernah lihat tamu itu, si takdir.

Semua kudu dipahami bahwa yang ditakdirkan Allah adalah hamparan jalan menuju surga. Saya kok dihina terus? Itu jalan saya menuju syurga. Saya kok gagal terus? Ini jalan saya menuju syurga!

Uang saya hilang? Itu jalan saya menuju syurga. Tapi kan itu mau saya sedekahkan? Mana yang lebih punya nilai, yang hilang atau yang disedekahkan? Yang hilang. Karena harus lebih ikhlas dan sabar. Keikhlasan uang hilang lebih susah daripada keikhlasan uang disedekahkan. Menyedekahkan uang kadang ada rasa untuk dipuji. Jadi, uang hilang lebih punya makna daripada menyedekahkan uang. Allah melihat bukan dari apa yang dilakukan, tapi dari kadar keikhlasan. sudah 24 karat belum, ikhlasnya?

Perbuatan baik yang dilakukan selalu menyejukkan dan menjernihkan diri dan orang lain. Bukan memberi beban pada orang lain dengan berkeluh kesah… Misal orang sakit yang bersabar dan ikhlas, kalau dijenguk, akan memberi kesejukan pada orang-orang yang menjenguknya. Misal selesai pengajian, sandal kita kok ditumpangi sandal lain yang jelek, kotor lagi. Kita diuji untuk sabar dan ikhlas.

Kalau sudah begini, hidup kita lebih dari tenang. Karena ketenangan ini akan mengantar kita ke syurga. Karena rumah kita yang sebenarnya adalah rumah yang di syurga nanti 🙂 Semoga kita dapat itu ya, aamiin…

Kebesaran hanya akan dapat diraih oleh orang-orang yang mau bersusah payah melalui beratnya ujian hidup. Misal, bapaknya dosen KU, ibunya dosen KU, anaknya masuk KU: orang bilang, ah itu biasa, wajar. Kalau ada orang miskin, hidupnya susah, genteng sekolahnya bocor, namun bisa jadi orang sukses, orang bilang itu luar biasa.

Ada orang yang ga punya tangan, nulis dan nyetrika pakai kaki. Dia punya istri, istrinya gak punya kaki… Bikinin susu buat hidangan di pagi hari… Meskipun begitu, hidup mereka harmonis dan bahagia. Dia dipandang memiliki pribadi yang besar, luar biasa.

Malu kalau kita punya masalah yang lebih kecil dari itu, tapi kita masih berkeluh kesah!

Kadang kita perlu melihat orang lain. Kalau orang lain bisa sabar, kenapa saya tidak? Kalau orang lain bisa ikhlas, kenapa saya tidak? Kalau orang lain bisa pasrah, kenapa saya tidak?

Mari merenung dan mengevaluasi diri, agar mendapatkan ketenangan hati…

Iklan

Penulis: fayruzrahma

always trying to be a simple person :)

15 thoughts on “Mencari Ketenangan di Balik Beratnya Ujian Hidup”

  1. astagfirullah…. semoga saya bisa lebih sabar, ikhlas dan pasrah menjalani ujian yang sedang saya hadapi…. aamiin
    mohon doa dan dukungannya temans….

    Suka

Ada komentar?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s