Antara Tatap Muka Secara Langsung dan Tidak Langsung

Ini bukan artikel tentang godhul bashor atau menjaga pergaulan laki-perempuan.

Ini tentang perdebatan metode konvensional vs teknologi informasi, hasil perbincangan saya dengan bapak saya tadi pagi di mobil.

Dalam perjalanan menuju kampus, radio MQ FM sedang membahas kelakuan para anggota dewan yang melakukan study banding ke luar negeri yang dianggap pemborosan oleh masyarakat dan media massa. Pakai acara belanja-belanja pula. Katanya, sekarang itu teknologi sudah canggih. Untuk berbincang-bincang dengan bule, gak perlulah sampai ke luar negeri. Pakai teleconference kan bisa.

Salah satu anggota dewan menanggapi hal ini. Kata beliau, study banding masih susah diterapkan dengan teleconference karena teknologi yang kurang canggih. Alasan lain, kurang sopan kalau cuma berbincang-bincang hanya lewat teleconference.

Sakjane nek sama-sama sepakat nganggo teleconference ki yo iso, sopan2 wae,” celetuk bapak saya.

Hla dulu itu ayah ke luar negeri, ke mana-mana. Kenapa gak pake teleconference aja?” sambar saya 😛

Lalu hadirlah ceramah pagi…

(ceramah ini sudah terkontaminasi oleh opini pribadi saya :P)

Dalam suatu pertemuan, ada 3 hal yang bisa menjadi tujuan kita: knowledge, attitude, dan value.

1. Knowledge. Sudah jelas ya. Tentang ilmu yang ingin kita dapat di pertemuan tersebut.

2. Attitude. Kesan yang ingin kita berikan kepada lawan bicara kita. Good impression bisa memperlancar urusan, karena kedua belah pihak sama-sama bahagia, gak lagi sakit hati. Bisa juga untuk belajar bagaimana berinteraksi dengan orang-orang dengan latar belakang budaya yang berbeda-beda.

3. Value. Ini yang paling penting. Hasil apa yang akan kita dapat dari pertemuan tersebut. Dan biasanya value ini lebih banyak didapat di pertemuan informal. Misal saat coffee break atau saat lunch/dinner. Di sini kita bisa membicarakan berbagai hal yang sama-sama penting tapi tidak termasuk dalam tema pertemuan. Dan perbincangan di sini lebih cair, ga stressful. Jadi, memungkinkan untuk terjadinya kesepakatan-kesepakatan kecil, ataupun ide-ide besar untuk suatu masalah penting.

Kalau tujuannya cuma knowledge aja, ya gak perlu lah untuk ketemu secara langsung. Pake teleconference juga bisa. Kalau perlu dua aspek lain-nya, harus ketemu secara langsung, gak bisa cuma lewat internet.

Terkadang pikiran kita cuma terbatas antara ya dan tidak. Misalnya di acara lomba debat, ada suatu mosi, suatu tim harus menyetujui mosi tersebut, sedangkan tim lain harus kontra dengan mosi tersebut.

Kalau tidak salah dulu di suatu mata kuliah sempat ada pertandingan debat dengan mosi kira-kira begini: Kuliah online perlu menggantikan perkuliahan tatap muka secara langsung.

Pilihannya adalah:
1. Setuju! Metode perkuliahan tradisional harus digantikan dengan kuliah online.
2. Tidak setuju! Kuliah online tidak bisa menggantikan kuliah konvensional.

Terkadang kita lupa bahwa solusi tidak hanya bisa didapat dengan mengambil salah satu pilihan, tapi bisa juga dengan mengombinasikan beberapa pilihan yang ada.

Kuliah online dan kuliah tatap muka itu saling melengkapi, tidak bisa saling menggantikan. Masing-masing metode memiliki nilai positif dan negatif. Jika digabungkan, nilai-nilai positif dari kedua pilihan tersebut akan sama-sama didapatkan 😀

Kuliah online: paperless, hemat biaya transport, video bisa diputar berulang-ulang sampai mudeng

Kuliah konvensional: kita bisa mendapatkan attitude dan value, gak cuma knowledge thok.

Secara tidak sadar, dosen, pegawai, dan mahasiswa lain telah menjadi role model kita dalam menjalani kuliah (dan hidup). Orang bisa mengidentifikasi, ini mahasiswa UGM, ini mahasiswa ITB, ini mahasiswa UI, cuma dari sifatnya. Sama juga kayak siswa SMA 1, SMA 2, SMA 3, dsb, itu beda-beda sifatnya dan sifatnya cenderung sama dalam satu sekolah. Makanya sampai ada komik personifikasi sekolah dan universitas yang menurutku sifat-sifat tokoh komik tersebut memang mirip dengan siswa masing-masing sekolah xD

Memang, cerita-cerita di luar konteks konten kuliah, misalnya pengalaman belajar di luar negeri, pengalaman conference di kota lain, pengalaman dosen saat menjadi mahasiswa dulu, itu sangat menginspirasi kami, anak didiknya 😀

————————————————————————————————–

Kesimpulannya (???), perjalanan anggota dewan keluar negeri itu tidak 100% salah. Kalau tujuannya cuma untuk dapat ilmu, pakai teleconference juga cukup. Tapi kalau ada nilai-nilai lain yang ingin didapatkan, yang sangat penting untuk kemajuan bangsa, yang cucuk dengan uang yang dikeluarkan, it’s okay untuk study banding keluar negeri.

Tentu, sebelum berangkat, perlu ada proses yang benar-benar menjamin produk yang akan dihasilkan dari pertemuan tersebut. Perlu di-list dulu permasalahan yang ingin diselesaikan, dicek importance-nya, daftar pertanyaan yang akan diajukan, sudah mencari jawabannya melalui internet, sudah berkomunikasi dengan orang-orang yang dituju mengenai masalah itu melalui email, dan sebagainya. Jadi, sudah ada usaha untuk menggunakan teknologi dalam menyelesaikan permasalahan tersebut. Kalau mentok, barulah mendatangi langsung di luar negeri sana…

Iklan

Penulis: fayruzrahma

always trying to be a simple person :)

3 thoughts on “Antara Tatap Muka Secara Langsung dan Tidak Langsung”

  1. Wah kok ngepas sama pikiranku beberapa waktu lalu nih Fay..

    Terkait dengan plurkku beberapa waktu lalu tentang ‘mahal’nya jadi orang Indonesia yang lalu menyerempet ke soal pajak, aku jadi berpikir, seorang pembuat ‘public policy’ itu memang sebaiknya ‘merasakan’ bagaimana keadaan di tempat lain yang menerapkan peraturan yang berbeda. Kalau sekedar tau di Eropa transportasi bagus, pajak tinggi, so what? Ada baiknya para pembuat kebijakan itu memang melihat lebih dekat, untuk bisa melihat gambaran lebih luas dan biar nanti kebijakan-kebijakannya nggak ‘kaku’.

    So asalkan kegiatannya berdasarkan latar belakang yang reasonable, kegiatannya transparan, dan bisa dipertanggungjawabkan, I support it 😀

    Suka

    1. setuju banget mbak 😀
      kerasa banget “hawa budaya” di luar negeri itu beda, jauuuh lebih mantab kalo terjun langsung daripada cuma dari cerita-cerita.
      Kalau cerita itu kan dari perspektif si pencerita, jadi kadang ada aspek2 lain yang tidak diceritakan, kita ga bisa mendapatkan gambaran suatu tempat secara utuh
      kalau mendatangi langsung kita bisa punya pandangan tersendiri yang mungkin beda dari apa yang diceritakan orang-orang. karena kita sendiri yang merasakannya

      Suka

  2. Setuju sama mbaknya. Lingkungan memang sedikit-banyak mempengaruhi karakteristik seseorang,
    how they behave, how they relate with each other.

    Meskipun ,tentu saja, generalisasi berlebihan tidak bijak diterapkan dalam memandang individu,
    tapi sampai titik tertentu, generalisasi (atau dalam kasus ini stereotype) bisa dibilang ada benarnya juga 🙂

    By the way, makasih ya mbak udah promo tumblr ^^

    Suka

Ada komentar?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s