Meraih Khusyu’ dalam Shalat

Kajian dari Ustadz Syatori Abdurrouf
(plus beberapa improvisasi penulis)
Jalasah Ruhiy di Darush Sholihat. Rabu sore, 6 Februari 2013.

Menuliskan ini bukan berarti saya sudah bisa shalat khusyu’ lho. Mari sama-sama belajar untuk bisa lebih khusyu’ dan fokus kepada Allah swt. saat shalat :’)

Khusyu’ adalah amalan hati yang tidak bisa didapat secara instan. Khusyu’ tidak harus dalam keadaan gelap, memejamkan mata, sunyi senyap, ataupun bercucuran air mata. Ada orang shalat di pinggir jalan raya, dalam kondisi di sekitar orang-orang yang ramai berlalu lalang, namun masih bisa khusyu’. Khusyu’ adalah tanda menikmati.

Shalat di pinggir jalan. Sumber: http://www.antarafoto.com/liputan-haji/v1288715701/shalat-di-jalan

Apa yang terjadi di luar shalat, itulah yang terjadi di dalam shalat. Vice versa! Apa yang terjadi di dalam shalat, itulah yang terjadi di luar shalat. Jadi, kalau saat shalat kita belum bisa khusyu’, bisa jadi itu adalah cerminan kegiatan sehari-hari yang belum berniatkan untuk ibadah pada-Nya.

Shalatlah sebelum kalian shalat!

Lho, shalat sebelum shalat? Njuk piye kuwi?
Artinya, kita kudu mempersiapkan diri sebelum shalat. Shalat adalah pertemuan jiwa dengan Allah swt. Mau ketemu presiden aja persiapannya wow banget. Apalagi kalau ketemu Allah, harus lebih wow lagi persiapannya!

Analoginya nih, seseorang mau menikah. Tapi dia tidak sadar bahwa akan menikah. Di hari H dia baru sadar. Kemungkinan besar dia tidak bisa khusyu’ nikahnya karena kepikiran hal-hal yang belum dipersiapkan dengan baik. Kalang kabut, pikiran kacau, perasaan jungkir balik, karena dia belum persiapan menguatkan hati dan mentalnya.

Begitu juga dengan shalat, harus dipersiapkan dengan baik, agar kita benar-benar siap dan khusyu’ saat menghadap-Nya.

Shalat adalah waktu untuk mengistirahatkan jiwa. Kalau kita tidak merasakan hal itu, bisa jadi kita belum terhubung dengan “alam shalat”. Ada 4 faktor yang bisa menghalangi kita dengan “alam shalat”:

1. Jiwa yang masih kotor oleh dosa, salah, dan sia-sia.

Bayangin deh. Misalnya kita menghadap dosen pembimbing, tapi pakaian kita kotor banget habis kena lumpur di jalanan, badan bau pula. Atau misalnya ternyata kita baru sadar pas udah di depan dosen di kampus kalau kita lagi pakai sandal. Saat ngobrol dengan beliau, pikiran kita bakal susah konsen antara hal yang sedang dibahas dan kondisi tubuh kita. Gelisah, “aduh ketauan ga ya kalo aku gak pakai sepatu :P”.

swamp_soccer
Gak mungkin kan kita langsung ketemu dosen habis main beginian 😐 Sumber gambar: http://www.apakabardunia.com/2012/08/inilah-olah-raga-paling-kotor-sedunia.html

Begitu juga dengan shalat, saat jiwa kita masih kotor oleh dosa, bisa jadi kotoran itu menutupi kita dari jalan kekhusyu’an 😦

2. Jiwa yang belum sepandangan dengan Allah ta’ala

Orang-orang yang tidak sepandangan, biasanya susah ngobrol nyambung. Kalau gak sepaham dengan ajaran Allah swt, gimana mau bisa nyambung ngobrolnya sama Allah pas shalat?

3. Jiwa yang masih menghadap (menyenangi) dunia

Fulan lagi ngobrol sama Abdullah, tapi mereka ga saling berhadapan. Fulan ngadep utara ngeliatin Merapi, Abdullah ngadep barat ngeliatin matahari tenggelam. Gak khusyu’ lah ngobrolnya itu.

Shalat kan buat beribadah kepada Allah swt, tapi hati kita masih lebih menghadap ke dunia daripada akhirat. Mana bisa khusyu’! 😥

4. Jiwa yang belum mau “eling”

Fulanah punya hutang ke Fulan. Tapi belum mau “eling” untuk bayar hutang itu. Fulanah jadi males ketemu Fulan dan takut deh kalau ketemu Fulan ntar ditagih hutangnya…

Jiwa yang belum mau “eling” sama Allah swt, bakal males kalau mau ketemu Allah…

Emang apa aja sih ciri-ciri jiwa yang belum mau “eling”?

  1. Berbuat salah yang sudah diketahui. Misal, udah tau bohong itu dosa, tapi tetep aja bohong telat datang kuliah karena ban bocor (padahal telat karena bangun kesiangan).
  2. Memilih yang baik, padahal ada yang lebih baik. Tahu kalau sedekah 100ribu rupiah lebih baik daripada cuma seribu, tapi yang dicemplungin ke kotak infaq cuma seribu rupiah itu. Tau kalau ngaji satu juz per hari lebih baik daripada cuma setengah juz per hari, tapi lebih milih opsi terakhir 😦
  3. Lebih memilih kesengangan dunia daripada kesenangan akhirat.

Mana yang lebih penting coba?

  • Memperindah rumah yang ditinggal atau ditinggali?
  • Membangun masa depan yang belum pasti (duniawi) atau sudah pasti (di akhirat)?
  • Hidup sebelum atau sesudah mati?

Mari renungkan sendiri-sendiri

Sebenarnya, syarat sah shalat itu berhubungan dengan 4 faktor penghalang ke “alam shalat” tadi:

  1. Suci dari hadats dan najis. Badan & jiwa kudu bersih kinclong sebelum shalat.
  2. Menutup aurat. Jika menganggap bahwa aurat itu indah dan harus dipamerkan, artinya kita belum sepandangan dengan Allah. Aurat itu harus ditutupi.
  3. Menghadap kiblat. Agar kita selalu menghadap ke akhirat dalam segala aktivitas.
  4. Masuk waktu shalat. Sebenarnya, sadar tepat waktu = terlambat. Misalnya contoh pernikahan tadi, dia sadarnya tepat di hari H pernikahan. Udah terlambat dongs. Begitu juga dengan shalat. Sebelum masuk waktu shalat, kudu udah sadar.

Puncak kesadaran hidup adalah sadar bahwa:

“Hari ini bisa jadi merupakan hari terakhir hidup saya.”

“…dalam hidup ini saya merasa tidak memiliki apapun selain Allah swt.”

Sumber: http://solusi-hutang.blogspot.com/2012/04/pembuka-pintu-rezeki-dengan-shalat_26.html
Sumber: http://solusi-hutang.blogspot.com/2012/04/pembuka-pintu-rezeki-dengan-shalat_26.html

Wallaahu a’lam bish showaab.

Penulisan artikel ini terbantu oleh rangkuman KRPH Mardliyah dengan judul yang sama.

Iklan

Penulis: fayruzrahma

always trying to be a simple person :)

1 thought on “Meraih Khusyu’ dalam Shalat”

Ada komentar?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s