Lulus?

Hello, my fourth year as a master student…

Sebelum menjawab pertanyaan dari si judul di atas, mari kita review sedikit perjalanan studi master saya kali ini.

Sudah lewat tiga tahun kuliah master, dapet apa?

2011-2012. Tahun pertama kuliah. Ambil beberapa kuliah S2 sembari mengerjakan skripsi S1.

Alhamdulillah kuliahnya cukup lancar, meskipun nilainya nggak A semua. Sempat miss beberapa pertemuan kuliah di awal semester karena saya kerja praktek sebulan di Jakarta. Belum ada bayangan ini skripsi bakal dikembangin kayak apa kalau dilanjutkan ke thesis…

2012 akhir. Tahun kedua, semester pertama. Wisuda S1 dan ambil sedikit kuliah.

Thesis kagak dimulai-mulai. Buat ngembangin riset S1 rada susah karena stuck, bingung mau diapain lagi. Usulan tema riset lain dari dosen pembimbing terlihat rumit dan kurang sreg. Dan sejak masuk S2, saya mengalami degradasi produktivitas dan tanggung jawab, di mana saat saya bingung mau ngapain, saya malah lari dari kenyataan dan menikmati filem atau komik. Dan itu berlangsung cukup lama, tidak cuma 1-2 hari. Saya kurang serius.

Bulan Oktober, saya dapet acceptance letter buat program Dual Degree. Pikir saya, Februari saya bakal berangkat ke Taiwan. Jadi tema riset thesis saya mending menyesuaikan dengan riset yang di Taiwan saja, begitu pikir saya. Dan singkat cerita, saya tidak jadi berangkat ke Taiwan di bulan Februari.

Jadi, di periode ini, progress thesis tidak ada. Karena saya kurang serius dan terlalu mengandalkan nasib riset di Taiwan kelak.

2013 awal. Tahun kedua, semester kedua. Ngulang kuliah dan gak riset sama sekali.

Idealnya, seharusnya ini semester terakhir saya sebagai mahasiswa master, di mana sks kuliah telah tercukupi dan tinggal menyelesaikan thesis. Namun karena ke-kurang-serius-an saya di semester sebelumnya, saya harus mengambil dua mata kuliah lagi.

Saya mendapat nilai E di salah satu mata kuliah karena tidak mengikuti ujian akhir karena salah paham jadwal ujian. Saya ingat tanggal jadwal ujiannya, tetapi karena biasanya jadwal ujian itu sesuai dengan jadwal kuliah, saya berasumsi bahwa tanggal tersebut adalah hari Kamis. Di hari Rabu siang, teman saya SMS, “kok gak ikut ujian?”. Rupanya, ujian akhir mata kuliah tersebut telah berlangsung di pagi harinya. Akhirnya saya mengulang mata kuliah ini. Kebetulan dosennya berbeda, jadi semoga ilmunya lebih bertambah.

Salah satu nilai mata kuliah saya tidak keluar karena saya tidak presentasi tugas akhir kuliah. Ceritanya, tugas tersebut seharusnya dipresentasikan di minggu tenang sebelum ujian. Di hari presentasi, saya belum bisa membuat interface untuk program saya. Galau dan tidak segera mengambil keputusan membuat saya tidak berangkat ke kampus di hari itu. Teman saya yang hadir bilang, ada beberapa rekan yang juga tidak hadir di presentasi tersebut dan ternyata tidak ada mahasiswa yang membuat interface karena memang lebih susah. Semua tugas yang telah dipresentasikan hanya menggunakan commandline/terminal dalam menjalankan programnya. Dan rupanya setelah itu, dosen tidak lagi mau menerima presentasi tugas. Nilai saya tidak keluar.

Di semester ini, mata kuliah tersebut telah dihapuskan sehingga saya harus ambil mata kuliah lain. Salah satu hikmahnya, semoga ilmu saya jadi lebih nambah.

Saya masih berpikir bahwa mengerjakan thesis entar saja pasca lulus dari Taiwan karena nanti thesisnya bakal mirip-mirip, menyesuaikan riset di Taiwan. Di semester ini, saya lebih fokus ke persiapan Netriders. Perjuangan thesis hanya kirim-kirim email ke Taiwan, cari dosen pembimbing yang sekiranya cocok.

2013-2014. Tahun ketiga, dilewatkan di Taiwan…

Bagaimana riset saya di Taiwan?

Saya tidak melanjutkan riset skripsi saya karena kurang cocok dengan riset-riset yang telah ada di NTUST. Profesor saya juga tidak memiliki proyek khusus, jadi topik riset dibebaskan ke mahasiswa, selama masih dalam koridor keahlian beliau. Saya dikenalkan dengan teknologi network mobility (nemo) dan rencana riset tentang optimasi rute komunikasi antar-node.

Topik ini dulu pernah dikerjakan mahasiswa Indonesia bimbingan advisor saya, tapi orangnya sudah lulus. Dari belasan mahasiswa master bimbingan beliau saat ini, tidak ada mahasiswa lain yang penelitiannya tentang nemo. Saya jarang diskusi riset dengan teman lab karena kendala bahasa dan kurangnya keberanian untuk memulai komunikasi tentang topik yang berat begini. Saya belajar sendiri dari paper-paper.

Semester pertama saya lalui dengan pendalaman teori sambil mencari-cari celah yang mungkin bisa diteliti untuk thesis saya. Saya ambil 3 mata kuliah. Dua mata kuliah cukup mudah, sedangkan satu kuliah, yang diajarkan advisor saya, cukup sulit dan menguras waktu dan otak.

Awal semester kedua, advisor saya bilang, mending arah risetnya ke nemo security saja karena topik optimasi rute nemo kurang punya prospek. Padahal dari dulu saya cukup anti dengan topik security karena tantangannya lumayan banget: desain yang seaman mungkin dengan biaya yang serendah mungkin dan performa yang seoptimal mungkin.
Mainan trade-off.
Dan biasanya topik keamanan jaringan ini mainan matematika, padahal saat kuliah S1 dulu matematika hanya diajarkan di semester satu, selanjutnya jarang ada mata kuliah yang melibatkan matematika.

Saya kurang ahli di bidang security sehingga saya belajar lagi tentang keamanan jaringan dari dasar. Melahap puluhan paper meski kadang setelah dibaca beberapa kali tetep nggak paham desain solusi keamanannya gimana.

Progress report ke profesor dua kali dalam sepekan. Saat saya bilang saya sedang bingung, saya stuck ga tau mau diapain lagi risetnya, atau saat saya tidak paham tentang salah satu desain solusi dari suatu paper, seringkali komentar advisor saya hanya, “keep reading” atau “keep going” atau “do your best.” Selesai.

Lah kalau lagi stuck, mau going ke mana, Prof?
Teorinya saya paham: saya harus lebih banyak baca lagi, lebih sering memikirkan solusi riset, berusaha simulasi solusi agar bisa lebih paham, atau sedikit “mundur ke belakang” untuk “ancang-ancang lari ke depan”.

Namun penyakit saat saya ngerjain skripsi kambuh lagi: lari dari riset, menikmati filem dan komik. Apalagi internetnya kenceng banget, benar-benar surga buat para pecinta streaming atau download film.

Saya adalah mahasiswa kedua yang masuk program dual degree di Department of Computer Science and Information Engineering (CSIE), NTUST. Advisor saya sama dengan advisor mahasiswa pertama dual degree CSIE, dan beliau akhirnya pulang ke Indonesia dengan status belum lulus karena risetnya belum selesai. Rencana riset akan diselesaikan di Indonesia, research progress report jarak jauh via email atau jejaring sosial, dan beliau akan kembali ke Taiwan saat telah siap oral defense.

Di bulan-bulan terakhir saya di Taiwan, riset saya masih belum bisa dibilang siap untuk diluluskan. Saya juga sangat belum puas, menurut saya riset saya ini masih sangat abal-abal jika dibandingkan dengan riset-riset lain yang berada di bawah bimbingan beliau.

Saya bilang ke advisor saya, worst case-nya mungkin saya akan extend masa kuliah saya di NTUST. Tapi saya tidak mau pulang dulu ke Indonesia, seperti senior saya, karena sepertinya ada banyak kendala untuk progress report.

Ternyata advisor saya tidak mengizinkan saya berpikir bahwa ada alternatif seperti itu. Harus selesai di akhir tahun ajaran ini. Apapun yang terjadi. Do your best.
Mungkin beliau tidak mau kejadian serupa dengan senior saya terulang; mahasiswa dual degree kok belum lulus-lulus…

Singkat cerita, advisor saya sudah menentukan tanggal sidang thesis saya, padahal analisis penelitian saya belum ada karena saya masih bingung dan belum paham tentang beberapa hal. Beliau push saya, pokoknya harus ada sesuatu yang bisa dipresentasikan dan membuktikan bahwa solusi yang saya tawarkan cukup kuat dan lebih baik dari solusi-solusi keamanan lain yang telah ada.

Akhirnya sidang thesis terlewati dengan solusi dan analisis seadanya.

Riset saya ini masih belum bisa “dijual” karena belum matang. Jadi, saya tetap harus melanjutkan riset saya dan laporan progress sepekan sekali ke advisor saya via email, sampai ada hasil yang bisa di-publish menurut standar beliau.

Dan advisor saya melarang saya untuk menggunakan hasil riset di NTUST sebagai thesis di UGM karena beliau agak sensitif dengan masalah copyright.

Jadi, jawaban dari judulnya apa dong?

Ditilik dari sisi status, saya sudah dapat sertifikat kelulusan NTUST.
Sudah bisa pasang “M.Sc.Eng.” di belakang nama.
Kalau lulus dari UGM sih, jelas belum.

Kenyataannya: belum benar-benar move on dari kedua universitas tersebut…

Trus, mau ngapain lagi?

Yah, semoga, di tahun keempat saya sebagai mahasiswa master ini, saya bisa melunaskan hutang riset saya ke profesor NTUST sekaligus menyelesaikan thesis saya yang di UGM. Harapannya sih, satu semester bisa kelar… Mungkin kalau dihitung dari performa 3 tahun saya yang kemarin, menyelesaikan semua-mua-nya dalam jangka waktu setengah tahun rada impossible… Tapi, impossible = I’m possible. Sebenernya kalo kegiatan geje-geje-geje saya itu dihilangkan, saya bisa kok. Beneran deh! *sugesti ke diri sendiri*

Ayolah fay, jangan omdo *omong doang*… buktikan!
bismillaahirrahmaanirrahiim…
Mohon doanya yaa! 🙂

*note to myself
*tulisannya rada boring ya, ga ada gambar :p curcol sih

Iklan

Penulis: fayruzrahma

always trying to be a simple person :)

1 thought on “Lulus?”

Ada komentar?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s