Pemilu di Taiwan

Saya pernah bilang bahwa salah satu alasan saya kabur dari Indonesia selama setahun adalah untuk menghindari “panas”nya hawa pemilu di Indonesia :p

Dan memang saya rasakan bahwa pemilu di luar negeri lebih adem ayem nan tentrem. Suasana anget-anget panas kadangkala muncul tapi hanya di balik layar dan tidak merembet ke mana-mana karena tidak terekspos ke masyarakat umum dan tidak ada media yang memanas-manasi. Muhahahah >:p

Berikut ini saya ceritakan hal-hal yang saya ketahui dan alami selama mengikuti proses pemilu di Taiwan…

Cara mencoblos

Ada dua macam sistem pencoblosan di luar negeri: via TPS dan via POS.

Sistem mencoblos di TPS sama seperti coblosan di Indonesia: warga dapat undangan mencoblos, datang ke TPS, verifikasi data, coblos di bilik suara, masukin surat suara ke kotak, lalu celup jari kelingking. Selesai.

Suasana salah satu TPS di Taiwan
Suasana salah satu TPS di Taiwan

Yang berbeda adalah pencoblosan via POS. Surat suara akan dikirim langsung ke alamat yang tercantum dalam Alien Resident Card (ARC – semacam KTP untuk foreigner). Setelah dicoblos, surat suara dikirim balik ke Kantor Dagang Ekonomi Indonesia (KDEI) untuk dihitung.

contoh surat suara via pos
contoh surat suara via pos

Kenapa sih kudu ada sistem coblos via pos?

Dari sekitar 200.000 penduduk Indonesia di Taiwan, sebagian besar adalah Buruh Migran Indonesia (BMI) yang tersebar di berbagai penjuru Taiwan. Tidak semua memiliki hari libur yang sama ataupun bebas pergi ke mana pun dia mau.

Misalnya, BMI yang bekerja sebagai Anak Buah Kapal (ABK). Mungkin dia menghabiskan banyak waktunya di laut dan tidak punya waktu untuk datang ke TPS di hari pencoblosan. Atau misalnya, BMI yang bekerja sebagai pengasuh kakek-nenek. Mereka biasanya memiliki hari libur yang bergantung pada kebaikan hati majikan.

Jumlah TPS di Taiwan juga terbatas, di tiap kota mungkin hanya ada 1-5 TPS. Tidak seperti di Indonesia yang tiap RW aja punya beberapa TPS. Pasti ada banyak warga Indonesia di Taiwan yang tempat tinggalnya cukup jauh dari TPS.

Jadi, agar semakin banyak warga Indonesia di Taiwan yang bisa berpartisipasi dalam pemilu, surat suara bisa dikirim via pos.

Beberapa bulan sebelum pemilu berlangsung, masyarakat bisa mengecek data diri di situs Panitia Pemilihan Luar Negeri (PPLN) Taiwan dan memilih: coblos via TPS atau via POS?

Persiapan Pemilu

Persiapan pemilu dilakukan oleh berbagai pihak, di antaranya: pemerintah yang diwakili oleh KDEI di Taiwan, pendukung calon atau partai tertentu, dan volunteer pemilu.

Menyiapkan surat suara via pos

Lebih dari 150.000 surat suara dipersiapkan untuk dikirim via pos. Dua pekan lebih, dari sekitar jam 10 pagi sampai jam 10 malam, para “volunteer” (dalam tanda petik, karena digaji :p) bekerja keras. Mengecek jumlah surat suara di kardus, mengecap surat suara satu per satu, memasukkan ke amplop nomor 2, memastikan tidak ada surat suara yang dobel, menimbang surat suara, melabeli amplop, memasukkan amplop nomor 2 ke amplop nomor 1, men-scan barcode di amplop, mengecap amplop nomor 1, dsb.

Kecepatan sepertiga dari proses yang saya sebutkan tadi, yaitu pengecapan surat suara dan memasukkannya ke salah satu amplop, adalah sekitar 200-300 surat per jam per orang. Yang kejar kuantitas tanpa peduli kualitas mungkin bisa 400-500 surat per jam per orang (iya, dibayarnya per surat suara).
Dan besok paginya tangan langsung pegel-pegel sebelah.

Saya gak punya foto dokumentasi persiapan surat suara via pos ini karena sibuk kejar target setoran :p

Kampanye

Pemilu di luar negeri hanya mencoblos untuk memilih anggota DPR RI dan presiden. Jadi, jumlah calon wakil rakyat yang di-kepo lebih sedikit (ga perlu cari tahu calon anggota DPRD atau DPD), meskipun juga tetep banyak sih -_-.

Calon-calon yang akan dipilih untuk DPR RI mengikut dapil 2 Jakarta. Karena jumlah suara luar negeri cukup banyak, dan Taiwan merupakan salah satu area yang WNI nya buanyak, kegiatan kampanye nya cukup terasa (apa karena saya terlibat ya, jadi kerasa :p). Misalnya, ada yang ngadain diskusi/talksow di gereja, ceramah Islami, bikin video atau foto-foto, bagi-bagi pin, kaos, brosur, dsb.

Cara bagi-bagi-nya lumayan mudah karena para BMI suka kumpul-kumpul, misalnya di taman, stasiun utama kota, toko-toko Indonesia, atau pelabuhan (karena banyak ABK). Atau saat jam-jam buang sampah (truk pengangkut sampah hanya lewat di waktu tertentu setiap hari. Beberapa asisten rumah tangga biasa duduk-duduk bareng sambil nunggu truk nya datang).

Beberapa calon wakil rakyat juga datang langsung ke Taiwan untuk kenalan sama masyarakat Indonesia. Misalnya, Pak Hidayat Nur Wahid yang mantan ketua MPR RI itu sempet puter-puter Taiwan (tapi saya gak ketemu beliau sih). Ketemu juga sama seorang bapak berpeci yang lagi bagi-bagi kartu kampanye dari partai warna biru di pintu keluar setelah pengajiannya ustadz Yusuf Mansur (dan ternyata foto di kartu itu ya muka bapak yang bagi-bagi kartu itu sendiri!).

Pemilu di hari Minggu

Pemilu di Indonesia berlangsung di hari Rabu. Tapi di luar negeri, pemilu berlangsung 3 hari sebelumnya, yaitu di hari Minggu. Soalnya kalau hari Rabu gak ada libur :v Tapi perhitungan suara tetap dilakukan di hari Rabunya. Lalu hari Kamis sampai Sabtu digunakan untuk menghitung surat suara yang masuk via pos.

Pemilu anggota dewan – TPS

Di pemilu April 2014, ada 40 TPS yang dibuka di seluruh Taiwan.
Saya kebagian jatah nyoblos di TPS 2, Taipei Main Station.
H-2 pemilu, saya baru tahu kalau saya bakal jadi saksi di TPS 3.

Karena tidak sempat mengurus perpindahan TPS, saya bolak-balik di siang harinya. Jarak TPS 3 ke TPS 2 sekitar 30 menit naik Mass Rapid Transport (MRT). Saksi dari partai lain nggak ada. Panwaslu juga gak ada yang standby, cuma nengok bentar terus pergi lagi buat nengokin TPS lain. Jadi pas TPSnya saya tinggal ya gak ada saksi di TPS :v

Kasus paling mencolok sih, banyak BMI yang kecele. Udah datang ke TPS, eh ternyata gak bisa nyoblos. Misalnya ada beberapa yang tidak tahu kalau surat suaranya dikirim via pos (jadi gak boleh coblos di TPS) padahal sudah pindah majikan beda kota, jadi ganti alamat, jadi surat suaranya gak dapet. Ada beberapa yang dateng ke TPS, ternyata dia terdaftar di TPS lain, padahal TPS nya cukup jauh, padahal udah susah-susah dateng nge-bis atau dianter majikan. Sebagian besar gak tau kalau bisa verifikasi alamat beberapa bulan sebelum pemilu.

Partisipasi yang mencoblos di TPS sedikit banget jika dibandingkan dengan jumlah calon pemilih. Misalnya di TPS 3 ini, dari 1300-an nama calon pemilih yang terdaftar, hanya 156 orang yang mencoblos. Jadi, sisa surat suaranya 1100-an. Itu hanya di satu TPS aja, belum di 39 TPS lainnya… Surat suara yang tidak dipakai langsung dicoret di petang harinya. Pegel le nyoret.

Pemilu 6 April di TPS Xindian, Taiwan
Pemilu 6 April di TPS Xindian, Taiwan

Pemilu anggota dewan – Pos

Beberapa hari setelahnya, saya jadi saksi lagi untuk perhitungan surat suara via pos. Ada lima bilik perhitungan suara dan saat itu saya jadi saksi sendirian lagi (pagi-pagi di hari kerja sih) mengawasi ke-lima-lima-nya. Hilir mudik ke sana ke mari. Ada panwaslu juga sih satu atau dua orang. Beban mental banget deh karena dhewean dan berkaitan dengan amanah suara rakyat.

Perhitungan surat suara via POS, 11 April 2014 (Pemilu di Indonesia tanggal 9 April 2014)
Perhitungan surat suara via POS, 11 April 2014 (Pemilu di Indonesia tanggal 9 April 2014)

Kalau ada yang ganjil dikit, misal ada bagian kecil surat suara yang hilang (kertas bekas coblosannya ga ada), saksi yang bakal ditanyain, “Gimana menurut mbak, ini sah nggak?” Petugas TPS cenderung manut sama saksi (ga 100% manut juga sih, pake diskusi dulu). Jadi, kalau kenapa-kenapa bisa gue yang kena pertanggungjawaban dari Tuhan YME -__- Waktu saya jaga (suatu pagi di suatu hari itu), ada 5000-an surat suara terhitung.

(kiri-atas, kanan-atas, kanan-bawah) surat suara tidak sah. (kiri-bawah) kesalahan saat membuka surat suara.
(kiri-atas, kanan-atas, kanan-bawah) surat suara tidak sah. (kiri-bawah) kesalahan saat membuka surat suara.

Pemilu presiden

Karena bau-baunya saya bakal jadi saksi lagi, coblosan pilpres kali ini saya pilih via pos.

Dan benar, saya menyaksikan pilpres, tapi di TPS yang berbeda. Kali ini TPS dekat kampus, 15 menit naik sepeda. Jadi saksi sendirian lagi. orz

Saya rasa, Ahad 6 Juli 2014 itu adalah hari terberat saya dalam menjalani puasa di Ramadhan taun ini. Musim panas (menurut laporan cuaca, hari itu adalah rekor hari terpanas selama beberapa hari terakhir), seharian di ruangan sempit pengap tanpa AC, jumlah pemilih lebih banyak, dan gak ada kegiatan yang mengalihkan perhatian dari panas (tugasnya kan cuma menyaksikan dan mengawal, dari jam 8 pagi, sampai jam 7 malam. Satu hari berlalu seperti saaangat lamaaaa— padahal udah bawa buku bacaan, ngaji juga, ngenet via hape juga -_-).

Real feel: empat puluh enam derajat celcius.
Real feel: empat puluh enam derajat celcius.

Alhamdulillah, sistem pemilu kali ini jauh lebih baik dari pemilu 6 April, karena sudah belajar banyak. Misal, sistem pendataan pemilih sudah online.

pemilu6juli

Proses pilpres via pos, saya tidak mengikutinya karena lebih konsen ke penelitian thesis (mendekati masa-masa oral defense).

Begitulah cerita saya dalam menjalani pemilu di Taiwan.
Cmiiw. Semoga bermanfaat 😀

Iklan

Penulis: fayruzrahma

always trying to be a simple person :)

Ada komentar?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s